JAKARTA – Berbicara mengenai isu dekolonisasi, publik internasional selama ini lebih banyak memberi perhatian kepada perjuangan rakyat Palestina yang terus melepaskan diri dari cengkeraman Israel. Namun, ada suatu wilayah di belahan barat Afrika yang mengalami permasalahan serupa. Wilayah tersebut adalah Sahara Barat.
Selama lebih dari 30 tahun, rakyat di Sahara Barat terus menghadapi ketidakpastian mengenai status mereka yang belum diakui sebagai negara berdaulat oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang masih menggolongkannya sebagai wilayah yang tidak berpemerintahan sendiri (non-self governing). Bahkan, rakyat Sahara Barat masih menanggung penderitaan akibat wilayah mereka sejak 1976 diduduki oleh negara tetangga, Maroko.
Sejak ditinggal Spanyol, Sahara Barat menjadi rebutan antara Maroko dan Mauritania melalui aksi militer tahun 1976. Tiga tahun kemudian Mauritania menarik diri dari Sahara Barat sehingga Maroko menjadi koloni tunggal di wilayah yang kaya akan sumber daya alam tersebut. Namun, penguasaan Maroko tersebut tidak diterima oleh rakyat Sahara Barat dan merupakan aksi ilegal. Sempat melakukan perlawanan bersenjata, gerakan kemerdekaan Sahara Barat yang dipelopori Fron Polisario sejak 1991 sepakat melakukan gencatan senjata dan memilih jalan damai untuk mengakhiri pendudukan Maroko.
Namun, hingga kini penyelesaian damai yang diserukan oleh PBB atas krisis dekolonisasi di Sahara Barat masih belum mencapai hasil konkret, bahkan penderitaan rakyat terus berlangsung sejak Maroko melakukan serangan dan pengeboman yang memaksa ratusan ribu warga mengungsi ke wilayah tetangga di dekat Kota Tindouf, Aljazair. Perwakilan Sahara Barat untuk Australia, Selandia Baru dan Pasifik Selatan, M. Fadel Kamal, selama satu pekan berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri seminar dekolonisasi di Bandung 14-16 Mei.
Kepada SH, Selasa (20/5), Kamal mengungkapkan perjuangan yang dilakukan rakyat Sahara Barat demi mewujudkan negara yang merdeka dan berdaulat dengan nama resmi Republik Demokrasi Arab Saharawi (SADR). Kamal juga mengungkapkan tantangan dan penderitaan yang dialami rakyat Sahara Barat dan Fron Polisario dalam melakukan perjuangan mereka tersebut. Dia juga mengungkapkan harapannya kepada Indonesia yang kali ini menjadi Ketua Komisi Khusus PBB bidang Dekolonisasi (C24). Demikian petikan wawancaranya.
Bisakah Anda jelaskan secara singkat seberapa pentingnya isu dekolonisasi bagi rakyat Sahara Barat dan situasi terkini di negara tersebut?
Sahara Barat merupakan bukti dari isu dekolonisasi yang masih belum bisa terselesaikan. Apalagi wilayah ini merupakan koloni terakhir yang masih tersisa di Afrika. Sampai kini hak-hak bangsa Sahara Barat mengatur nasib sendiri sebagai negara yang berdaulat masih belum terpenuhi dan terus mengusik hidup rakyat kami dalam 33 tahun terakhir. Terutama mereka yang masih menderita akibat pelanggaran hak asasi manusia, baik yang tinggal di wilayah yang masih dijajah maupun di kamp pengungsi di perbatasan sebanyak sedikitnya 165.000 orang.
Mereka hidup dalam kondisi yang mengenaskan dan tinggal di gurun pasir yang sangat tidak layak. Isu di Sahara Barat ini patut disayangkan karena melibatkan negara muslim. Sangat jarang terjadi melihat negara muslim menginvasi sesama bangsa muslim dan meneruskan kolonisasi Spanyol periode 1884 sampai 1975. Itu merupakan invasi yang brutal dan berdarah karena menggunakan bom kluster dan napalm yang dilarang PBB.
Orang Saharawi yang tetap tinggal di tanah air mereka senantiasa ditahan, dipenjara, menghadapi kematian, dan “hilang” di tangan angkatan pendudukan Maroko. Mereka yang ingin melarikan diri dihalangi oleh tembok sepanjang 2.700 km yang membelah Sahara Barat dalam zona pesisir yang diduduki Maroko dan bagian dalam yang dikuasai Republik Saharawi. Selain itu ditanam lebih dari 3 juta ranjau darat dan 120.000 tentara.
Fron Polisario selama ini berjuang untuk mewujudkan Sahara Barat yang merdeka dan berdaulat melalui proklamasi Republik Demokrasi Arab Saharawi (SADR). Namun hingga saat ini Sahara Barat masih digolongkan PBB sebagai wilayah yang tidak berpemerintahan sendiri dan Maroko masih berkuasa di sana. Apa yang membuat isu dekolonisasi ini sulit segera diselesaikan?
Saya sadar bahwa perjuangan sebagai bangsa yang merdeka masih membutuhkan waktu yang panjang, seperti yang terjadi pada Namibia, Afrika Selatan, dan Eritreia. Sebenarnya PBB maupun Uni Afrika telah menerapkan upaya-upaya yang gigih untuk mengatasi isu dekolonisasi Sahara Barat. Namun masalahnya, belum ada upaya-upaya mempercepat pelaksanaan resolusi-resolusi maupun berbagai kesepakatan internasional yang mendukung penyelesaian dekolonisasi di negeri kami.
Salah satu penyebabnya karena Maroko khawatir akan sikap rakyat Sahara Barat bila dilakukan referendum seperti yang diusulkan PBB di sejumlah resolusi. Mereka tentunya akan memilih merdeka ketimbang tetap berada di bawah penguasaan Maroko. Selain itu, kurangnya tekanan atau kemauan politik di antara anggota-anggota yang berpengaruh di Dewan Keamanan PBB, terutama dari Prancis. Mereka berupaya agar Maroko tidak ditekan atau dikecam atas pelanggaran yang dilakukan terkait dengan berbagai resolusi maupun perjanjian damai yang mendukung pelaksanaan referendum Sahara Barat.
Kendala lain bisa jadi terkait dengan ungkapan Inggris, “suatu roda baru diperbaiki bila sudah mengeluarkan suara yang tak mengenakkan.” Selama ini rakyat Sahara Barat – kendati menderita dalam penjajahan - memilih pendekatan yang damai dan tidak melakukan huru-hara atau aksi terorisme untuk mengundang perhatian dunia. Ironisnya masyarakat dunia akhirnya kurang peduli atas kondisi di Sahara Barat karena rakyat di sana bersikap baik dan memilih jalan damai dengan mematuhi seruan gencatan senjata PBB 1989.
Apakah kondisi demikian bisa membuat frustrasi sebagian kalangan Fron Polisario atau mereka yang memperjuangkan Sahara Barat merdeka sehingga akhirnya kembali memilih angkat senjata melawan Maroko?
Situasi itulah yang kami khawatirkan. Apalagi sudah ada suara-suara di kalangan muda yang mulai tidak sabar atas situasi yang belum berkembang di tengah upaya-upaya damai dan perundingan yang kami lakukan selama ini. Namun, saat ini kami tetap berupaya mengedepankan jalan damai dengan tetap menggandeng Maroko dalam perundingan sambil terus mengharapkan dukungan internasional baik melalui Perserikatan Bangsa-bangsa, Uni Afrika, maupun melalui institusi-institusi lain.
Apa yang Anda harapkan dari Indonesia dalam mendukung perjuangan Sahara Barat?
Saya berharap bangsa Indonesia turut memberikan solidaritasnya kepada perjuangan Sahara Barat mengingat di pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa Indonesia menentang penjajahan di muka bumi dan mendukung perjuangan kemerdekaan dari penjajahan. Sikap ini pun tercermin dari Dasasila Bandung pada Konferensi Asia Afrika 1955.
Jadi bagi kami, ini merupakan peluang untuk membangkitkan kesadaran bagi bangsa Indonesia mengenai isu Sahara Barat yang mungkin tidak populer di sini, namun ada banyak orang di sana yang masih menderita karena penjajahan. Apalagi Indonesia saat ini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan Ketua Komisi Khusus Urusan Dekolonisasi sehingga bisa berperan aktif memperjuangkan resolusi PBB dalam mempercepat upaya mengatasi isu dekolonisasi ini.
Kami berterima kasih kepada Indonesia yang memberi kesempatan untuk mengabarkan perjuangan Sahara Barat melalui seminar di Bandung pekan lalu. Selanjutnya kami berharap dukungan selanjutnya dari Indonesia saat memimpin pertemuan komisi C24 di New York, Amerika Serikat, Juni mendatang.
(renne kawilarang)
Sekilas Sahara Barat
Sahara Barat yang luasnya sama dengan Inggris terletak di barat laut benua Afrika, tepatnya di sepanjang pesisir Samudera Atlantik dan dibatasi oleh Maroko di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur laut dan Mauritania di selatan dan tenggara. Sahara Barat secara resmi disebut Republik Demokrasi Arab Saharawi (SADR) yang diproklamasikan pada 27 Februari 1976.
SADR merupakan anggota penuh Uni Afrika dan diakui secara internasional oleh lebih dari 80 negara. SADR kaya akan sumber-sumber mineral, termasuk fosfat dan bijih besi dan merupakan salah satu lahan perikanan terbaik di dunia. Kini sumber minyak lepas pantainya sedang dieksplorasi.

